Hikayat Keberpihakan

Oleh: Mh Maulana*

Sejumlah 313 pasukan yang didominasi rakyat biasa merasa gentar hari itu. Di hadapannya 1200 bala tentara musuh bersenjata lengkap menatap tajam. Kilatan tombak dan pedang siap merajam. Hidup seperti selangkah lagi menuju padam. 

Seseorang yang memimpin prajurit kecil itu mengucap doa penghabisan, 

"Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku –maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, disanjung atau dihina, bahagia atau sengsara, hidup atau mati, pun ada atau tiada.

Dipandanginya barisan itu sekali lagi. Sebelum kaki melangkah lebih jauh, Ia berkata ke pasukannya,

Innama turhamuna wa tunshoruna wa turzaquna bi dhuafaikum” 

Kalian akan ditolong oleh Allah, dianugerahi kemenangan, dan rizki, jika kalian berperang semata-mata untuk membela kaum lemah (dlu’afa) di kampung-kampung  kalian.

Dan kita tahu, perang badar adalah titik balik. Pasukan Nabi Muhammad menang telak dari barikade lengkap Abu Sufyan yang nyaris terlihat tanpa kelemahan. Strategi, tekad, dan keteguhan sang nabi bersama barisannya menuai jawab. 

Sekali lagi, ...karena kalian maju perang demi membela rakyat yang dilemahkan. Pidato sang nabi itu terus terngiang. Ia adalah ikrar. Ia adalah perjuangan keadilan yang bertaruh mati. 

Bila kita cermati mendalam, kaum lemah dan rakyat tertindas ini adalah pijak seruan tegas sang nabi. Ia serupa manifesto perang badar. Tanpa pembelaan atas kaum lemah tersebut, kita hanyalah sekumpulan golongan hina dan tidak berdaya. 

Setelahnya kita tahu, akibat titik balik dari kemenangan perang ini. Kelak, budak-budak mulai dibebaskan. Tata negara diperbaiki. Konsep laku shodaqoh, infaq, sampai baitul mal menjadi ruang transformasi ekonomi yang berorientasi pengentasan kemiskinan menunjukkan semarak geliatnya. 

Kembali pada momentum badar. Perang ini adalah perang yang ikonik. Kekalahan jumlah dan persenjataan belum cukup menjadi niscaya akhir menyambut kekalahan. Sang nabi dan beberapa pasukan pilihannya mengatur siasat. Kecerdasan yang dilengkapi keberanian serta keberpihakan memang seperti senjata ghaib penuh taji dan mematikan. 

Salah satu riwayat menyebut bahwa Imam Ali adalah anak muda yang paling banyak menjatuhkan musuh saat itu. Semua gerak dan tebasan pedangnya presisi. Ia adalah arti penting dari kecerdasan, keberanian, dan perjuangan. Oleh karenanya, sang nabi suatu ketika pernah mengatakan, "Tidak ada pedang seperti Zulfikar dan tidak ada seorang pemuda bagaikan Ali."

Perang badar dan keberpihakan pada kaum yang lemah adalah garis bawah tebal. Sang nabi tegas sekali terhadap pembelaan atas kaum lemah ini. Berkali-kali ia menekankan pada para sahabat, 

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Dawud). 

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangga yang di sampingnya dalam keadaan lapar, padahal ia mengetahuinya.” (HR. At-Thabrani). 

“Allah senantiasa  menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim no. 2669). 

Lebih jauh, kelak, ketika Imam Ali menjadi khalifah, keberlanjutan kebijakan dan keberpihakan pada rakyat dan kaum lemah ini semakin menemukan makna luasnya. 

Baitul Mal dibuka secara umum tanpa membatasi golongan. Lalu tanah luas yang sebelumnya dikuasai segelintir orang disita negara untuk didistribusikan. Serta banyak memfokuskan urusan umat demi kemaslahatan atau kesejahteraan sosial. 

Memang, sejak mula, dunia hadir lalu tumbuh dengan perbedaan. Pilihannya, di sisi mana keberpihakan kita nisbatkan? 

Bojonegoro, 12 Syawal 1443 H

*Penulis adalah bagian keluarga besar Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai, Bidang Organisasi di Kanal Muda, serta Departemen Media dan Propaganda di SERBUK Indonesia

Kanal Muda. Mengalirkan Kehidupan.

Pos Sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url