81 Tahun Merdeka?
Oleh: Asmariyana
Pada 15 Agustus 2026, dua hari sebelum perayaan hari kemerdekaan Indonesia, masyarakat Aceh memperingati 21 tahun hari damai Aceh. Sebuah peristiwa untuk memperingati sejarah panjang dan berdarah. Sejarah yang menggambarkan bagaimana kekuatan militer bisa begitu berbahaya bagi masyarakatnya sendiri.
Saat saya membuka sosial media, sayangnya, gambar pertama yang saya lihat dari kabar peringatan hari damai ini adalah: seorang pria yang terluka terkena tembakan aparat. Pemicunya pengibaran bendera Bintang-Bulan. Sebagian massa aksi mencoba mengibarkan bendera identitas GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tersebut.
![]() |
| HUT Ke-81 RI |
Lagi-lagi, sebuah gambaran bagaimana kekuatan bersenjata membatasi hak masyarakatnya sendiri. Hak untuk mengekspresikan kekecewaan pada negara. Pada tindakan-tindakan yang mengecewakan masyarakat.
Tentu masih segar di kepala kita bagaimana akhir tahun 2025 Aceh dan beberapa wilayah di Sumatera mengalami banjir besar. Peristiwa ini menewaskan ribuan orang. Ribuan nyawa yang bukan hanya angka. Ribuan orang yang adalah anak, ayah, ibu, saudara, dan orang-orang terdekat. Namun keputusan pemerintah saat itu untuk tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional, barangkali melukai hati masyarakat Aceh dan Sumatera.
Pengibaran bendera Bulan-Bintang harusnya bisa dilihat sebagai bentuk kekecewaan masyarakat pada pemerintahnya. Sebagai sebuah bentuk ekspresi yang dijamin kebebasannya dalam undang-undang. Sebuah tindakan yang sah dalam wajah demokrasi. Bentuk ekspresi yang harusnya disambut dialog oleh pemerintah.
Tapi sepertinya aparat kita tidak berpikir demikian. Sebuah aksi peringatan hari damai, dua hari sebelum memperingati hari kemerdekaan Indonesia, mengalami represi dari aparat. Maka menjadi wajar jika masyarakat mempertanyakan demokrasi kita. Benarkah kita masih demokratis? Lebih dari itu, benarkah masyarakat kita merdeka?
Bergeser ke timur Indonesia. Masih di hari yang sama. Sebuah peristiwa bencana alam sedang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bencana yang dalam sekejap menewaskan puluhan orang, ratusan lainnya terluka, akses jalan terhambat karena longsor, ribuan masyarakat terpaksa harus mengungsi.
Bahkan hingga hari berikutnya, pada tanggal 16 Agustus, sehari sebelum Indonesia merayakan kemerdekaan, masyarakat NTT masih diliputi rasa takut. Peringatan gempa susulan terus dikeluarkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Hal ini tentu menghambat kegiatan masyarakat. Orang-orang berhenti bekerja, anak-anak berhenti sekolah. Setidaknya untuk beberapa saat. Masyarakat terdampak sedang mencari perlindungan.
Peristiwa Aceh dan NTT hanyalah dua dari kabar menyedihkan, mengecewakan, dan menyayat sekaligus dalam runtutan waktu yang berdekatan. Di berbagai media, kabar-kabar yang tak kalah melukai perasaan warga negara sedang berseliweran. Berbagai tajuk berita ini mengiringi riuh perayaan ke-81 tahun kemerdekaan Indonesia. Perayaan-perayaan simbolis yang seolah sedang berusaha menandingi duka mendalam yang jauh lebih nyata.
Sementara itu, tepat pada 17 Agustus. Sebuah perhelatan besar-besaran diselenggarakan di istana negara. Mempertontonkan segala bentuk kemewahan. Para elit negara duduk tersenyum-senyum menunjukkan kebanggaan. Ditemani beberapa artis ternama. Dengan pakaian khas daerah-daerah wilayah Indonesia. Lengkap dengan segala aksesorisnya.
Selain pengibaran bendera, ada pertunjukan demo udara oleh pilot-pilot TNI AU. Nyanyian-nyanyian lagu-lagu daerah. Semuanya menambah meriahnya perayaan besar sekali setahun negara ini. Sekali lagi, sebuah perayaan simbolis.
Memperingati hari pembacaan proklamasi sesungguhnya tak pernah salah. Tentu saja momentum pembacaan proklamasi Indonesia oleh Sukarno adalah momen bersejarah yang tak boleh dilupakan. Momen yang menjadi simbol terlepasnya suatu negara jajahan dari kolonialisme.
Tetapi di tengah situasi seperti itu, kemeriahan perayaan kemerdekaan terasa seperti sebuah ironi. Bukan karena masyarakat tidak boleh merayakan kemerdekaan. Bukan pula karena negara tidak boleh menyelenggarakan upacara, pertunjukan seni, atau menghadirkan para artis dan atraksi pesawat tempur. Semua itu adalah bagian dari perayaan yang sah.
Yang terasa janggal adalah ketika kemewahan perayaan itu begitu kontras dengan kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat. Ketika di satu tempat negara mempertontonkan kemegahan, di tempat lain masyarakat sedang mencari tempat yang aman untuk tidur. Ketika para elite mengenakan pakaian terbaik dan tersenyum di depan kamera, sebagian masyarakat masih berhadapan dengan kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian.
Kemerdekaan semestinya tidak hanya dirayakan sebagai sebuah peristiwa yang terjadi 81 tahun lalu. Kemerdekaan seharusnya juga menjadi pertanyaan tentang bagaimana negara memperlakukan warganya hari ini.
Sebab apa artinya merdeka jika sebagian masyarakat masih merasa tidak didengar ketika menyampaikan kekecewaannya? Apa artinya merdeka jika rasa aman masih menjadi sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang? Dan apa artinya merayakan kemerdekaan dengan begitu megah jika pada saat yang sama sebagian warga negara sedang berjuang mempertahankan hidupnya dari bencana dan kehilangan?
Mungkin persoalannya bukan pada pesta itu sendiri. Persoalannya adalah prioritas dan kepekaan. Sebuah negara tentu boleh bergembira. Tetapi negara juga harus tahu kapan harus menahan diri. Ada saatnya musik dan pertunjukan menjadi simbol kebahagiaan. Namun ada pula saat ketika yang lebih pantas ditunjukkan adalah empati, kesediaan mendengar, dan keberpihakan kepada mereka yang sedang terluka.
Karena itu, di tengah riuh perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, saya justru ingin bertanya: apakah kita benar-benar sedang merayakan kemerdekaan, atau hanya merayakan simbol-simbol kemerdekaan?
Kita merayakan bendera. Kita merayakan pakaian adat. Kita merayakan lagu-lagu daerah. Kita merayakan pertunjukan pesawat tempur. Kita merayakan kemegahan istana.
Tetapi barangkali kemerdekaan yang sesungguhnya jauh lebih sederhana: ketika seorang warga negara dapat menyampaikan kekecewaannya tanpa takut ditembak, ketika masyarakat yang tertimpa bencana merasa negara hadir untuk melindunginya, ketika setiap orang merasa memiliki tempat yang sama di dalam negara ini.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang bagaimana negara memastikan warganya tidak merasa menjadi orang asing di tanah airnya sendiri.
Dan mungkin, setelah 81 tahun, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi "Sudah berapa lama Indonesia merdeka?" tetapi "Sudah sejauh mana kemerdekaan itu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia?"
Kanal Muda. Mengalirkan Kehidupan.

