Ketika Werdi Tidak Datang: Sebuah Catatan tentang Tokoh yang Hilang

Oleh: M Nata

Membaca pementasan Tuhan, Tolong Bunuh Emak karya Yessy Natalia oleh Teater Dahana SMAN 1 Samarinda pada Festival Teater Remaja Nasional #5, berarti membaca sebuah teks yang telah mengalami pergeseran ruang dan “tokoh yang hilang”. Festival ini berlangsung pada 3–8 Agustus 2026 yang diselenggarakan oleh HMJ Teater ISI Yogyakarta. Jika naskah asli menempatkan keluarga Bekti di pemukiman pinggir rel kereta api di Jakarta, penyaji mengadaptasinya ke kehidupan masyarakat di bantaran sungai Samarinda.

Perubahan ini bukan sekadar pemindahan geografis. Ruang membawa watak sosial, kebiasaan, relasi, dan cara konflik tumbuh. Bantaran sungai menjadi ruang baru bagi kehidupan Bekti: tempat kemiskinan, utang, sakit, dan konflik keluarga berlangsung, sekaligus ruang yang memungkinkan Bekti berhubungan dengan lingkungan di luar rumah.

Namun, di tengah perluasan ruang tersebut, justru ada satu relasi yang dihilangkan oleh penyaji: Yakni tokoh “Werdi”. Dalam naskah asli, Werdi adalah tetangga sekaligus teman Bekti. Penyaji memilih untuk tidak menghadirkan tokoh tersebut karena keterbatasan jumlah pemain. Keputusan itu dapat dimengerti sebagai persoalan produksi. Teater, bagaimanapun, selalu berhadapan dengan batas: jumlah pemain, waktu latihan, biaya, ruang pertunjukan, hingga kemampuan teknis kelompok. Tetapi begitu lampu panggung menyala, alasan produksi tidak berhenti menjadi urusan produksi saja, Ia kemudian berubah menjadi persoalan artistik.

Sebab di atas panggung, ketika satu tokoh hilang, bukan hanya satu tubuh yang hilang. Sebuah kemungkinan percakapan ikut menghilang. Sebuah sudut pandang ikut terputus. Sebuah hubungan sosial yang sebelumnya menjadi bagian dari dunia cerita ikut berubah. Maka pertanyaan yang lebih menarik bukan mengapa Werdi tidak dimainkan. Pertanyaannya adalah: Apa yang dilakukan penyaji terhadap ruang yang ditinggalkan Werdi?

Bekti sejak awal berada di tengah tekanan: Emak sakit, kebutuhan rumah terus berjalan, masa depan Wiyarti harus diperjuangkan, sementara hutang belum selesai. Minah ikut berada dalam pusaran itu, dan Jaul datang membawa tuntutan dari luar. Hampir semua persoalan akhirnya bermuara kepada Bekti.

Dalam situasi tersebut, Werdi memiliki ruang yang berbeda. Sebagai tetangga sekaligus teman, ia bukan bagian dari inti keluarga, tetapi cukup dekat untuk menjadi tempat Bekti berhenti sejenak, berbicara, dan melihat persoalannya dari luar. Ia menjadi semacam cermin sosial bagi Bekti.

Ketika Werdi ditiadakan, ruang itu ikut menyempit. Bekti hanya berhadapan dengan orang-orang yang membawa tuntutan: Emak dengan rasa bersalah, Minah dengan persoalan rumah tangga, Wiyarti dengan masa depan, dan Jaul dengan utang. Tidak lagi ada seseorang yang sekadar mendengarkan. Sayangnya, ketika fungsi tersebut tidak mendapatkan pengganti yang dramaturgis, kekosongan Werdi hanya menjadi kekosongan.

Masalah lain muncul pada Jaul. Dengan hilangnya Werdi, Jaul otomatis menjadi salah satu wajah dunia luar yang paling kuat. Karena itu, Jaul tidak seharusnya hanya dimainkan sebagai penagih utang yang jahat. Kalau Jaul terlalu antagonistik, persoalannya menjadi mudah. Bekti adalah korban. Jaul adalah penekan.

Penonton tahu harus berpihak kepada siapa. Padahal akan jauh lebih menarik jika Jaul juga memiliki alasan. Ia mungkin sedang membutuhkan uang. Ia mungkin memiliki kewajiban sendiri. Ia mungkin mengetahui penderitaan Bekti tetapi tidak memiliki kemampuan untuk ikut menanggungnya. Dengan begitu, konflik berubah. Bekti tidak menghadapi manusia jahat. Ia menghadapi manusia lain yang juga sedang bertahan. Dan justru karena itu, utang menjadi semakin menyakitkan.

Dan pada titik ini, penyaji sebenarnya memiliki kesempatan untuk menjadikan ketiadaan Werdi sebagai bagian terkuat dari pementasan. Bekti sendirian. Emak terbaring. Minah tidak ada. Wiyarti tidak ada. Jaul tidak ada. Dan tentu saja, Werdi tidak ada.

Tidak ada musik yang perlu menjelaskan kesedihan. Tidak perlu tangisan panjang. Biarkan Bekti duduk. Melihat uang. Melihat obat. Melihat Emak. Kemudian melihat racun. Berhenti. Mengambilnya. Meletakkannya. Berhenti lagi. Tanpa menuangkan racun dalam mangkuk emak, lalu pergi begitu saja.

Semakin kecil tindakan itu dimainkan, semakin besar pertanyaan yang ditinggalkannya. Karena yang sedang kita lihat bukan sekadar seseorang yang hendak membunuh. Kita sedang melihat seseorang yang perlahan kehilangan semua ruang untuk mencari jalan keluar.

Di sinilah judul “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” menjadi jauh lebih mengerikan. Bukan karena seorang anak membenci ibunya. Tetapi karena kasih sayang telah bertemu dengan kemiskinan dan menghasilkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Bekti ingin menghentikan penderitaan Emak. Ia juga ingin menyelamatkan masa depan anaknya. Ia ingin membayar utang. Ia ingin menjadi suami dan anak yang bertanggung jawab. Namun semua keinginan itu membutuhkan sumber daya yang sama: uang. Dan uang itu tidak ada. Yang runtuh bukan hanya ekonomi keluarga. Yang runtuh adalah kemampuan mereka untuk memilih.

Karena itu, hilangnya Werdi semestinya tidak berhenti pada kalimat: “Tokohnya tidak dimainkan karena pemain kurang.” Keterbatasan itu justru dapat menjadi pintu masuk bagi penyaji untuk bertanya ulang tentang struktur pementasan. Jika Werdi dihilangkan, siapa yang mengambil fungsi reflektifnya? Jika tidak ada yang mengambil, apakah isolasi Bekti memang sengaja dibangun? Jika masyarakat tetap menjadi bagian penting dari latar bantaran sungai Samarinda, bagaimana kehadiran masyarakat itu diwujudkan tanpa harus menambah banyak pemain? Jika Jaul menjadi satu-satunya wajah di luar rumah, apakah ia cukup kompleks? Jika ada tokoh lain yang mengambil sebagian fungsi Werdi, apakah ia sudah diberi ruang yang cukup untuk memiliki pandangan dan kehendaknya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar mencari aktor pengganti. Sebab, tokoh boleh hilang, tetapi fungsi dramaturgis tidak boleh ikut hilang tanpa disadari. Pada akhirnya, Werdi mungkin memang tidak perlu berada di atas panggung. Tetapi penonton harus tetap bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak tersedia bagi Bekti. Yakni, sebuah ruang untuk berbicara. Sebuah tempat untuk meminta pertimbangan. Seseorang yang dapat mengatakan, “Jangan.” Atau bahkan seseorang yang hanya duduk dan mendengarkan.

Jika ruang itu berhasil diciptakan melalui tokoh lain, melalui bunyi, melalui keheningan, atau melalui tubuh Bekti sendiri, maka keterbatasan pemain telah berubah menjadi bahasa artistik. Namun jika tidak, maka yang hilang bukan hanya Werdi. Yang menyempit adalah dunia Bekti. Dan mungkin di situlah catatan paling penting untuk penyaji pementasan ini: Jangan takut menghilangkan tokoh, tetapi takutlah menghilangkan alasan mengapa tokoh itu pernah ada.

Sebab, dalam dramaturgi, yang paling sulit bukan mempertahankan semua karakter. Yang paling sulit adalah mengetahui apa yang harus tetap hidup setelah satu karakter tidak lagi berada di panggung.

Werdi tidak datang malam itu. Tetapi seharusnya ketidakhadirannya tetap meninggalkan jejak. Jika jejak itu terasa, maka Werdi tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat—dari tubuh seorang pemain ke dalam kesunyian rumah Bekti.

Tidak lupa atas perjuangan Teater Dahana, SMAN 1 Samarinda yang sudah meraih Juara 1 Penyaji Terbaik, Aktor Terbaik, Artistik Terbaik, sekaligus nominasi Aktor Pembantu Potensial dan Sutradara Potensial, dalam perhelatannya mengikuti Festival Teater Remaja Nasional #5 tahun 2026 di Yogyakarta. Selamat! Viva Teater! Bravo!

YMC, 12 Agustus 2026

Kanal Muda. Mengalirkan Kehidupan.

Pos Sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url